Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan

Dan nikmat Tuhanmu yang manakah yang akan engkau dustakan?

Update blog sobat

2008-11-03

Cerita dewasa | Raihana

Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalam kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal.

"Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu," kata ibu.

"Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon keikhlasanmu,"
ucap beliau dengan nada mengiba.

Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari pagi di hatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan diriku. Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu saja dan tidak tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria dan impian tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai.

Saat khitbah (lamaran) sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan anggun. Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali. Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, "Cantiknya alami, bisa jadi bintang iklan Lux lho, asli!" kata tante Lia.

Tapi penilaianku lain, mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung indah, mata bulat bening khas arab, dan bibir yang merah. Di hari-hari menjelang pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia. Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku.

Hari pernikahan datang. Duduk di pelaminan bagai mayat hidup, hati hampa tanpa cinta, pesta pun meriah dengan empat grup rebana. Lantunan shalawat Nabi pun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku adalah mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai. Rabbighfir li wa liwalidayya!

Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya. Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan kepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir kota Malang. Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama dengan makhluk yang bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit cintaku belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh tetap terasa asing.

Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama Raihana mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang jauh-jauh rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya kusayang dan kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh tak acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang kerja. Aku merasa hidupku adalah sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia, pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia. Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihana pun merasakan hal yang sama, karena ia orang yang berpendidikan, maka dia pun tanya, tetapi kujawab, "Tidak apa-apa koq mbak, mungkin aku belum dewasa, mungkin masih harus belajar berumah tangga."

Ada kekagetan yang kutangkap di wajah Raihana ketika kupanggil 'mbak'.
"Kenapa mas memanggilku mbak, aku kan istrimu, apa mas sudah tidak mencintaiku?" tanyanya dengan guratan wajah yang sedih.

"Wallahu a'lam." jawabku sekenanya.

Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam menunduk, tak lama kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku,

"Kalau mas tidak mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri, kenapa mas ucapkan akad nikah?"
"Kalau dalam tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan, kenapa mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa mas diam saja, aku harus bersikap bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku di dunia ini."
Raihana mengiba penuh pasrah.


Aku menangis menitikan air mata buka karena Raihana tetapi karena kepatunganku. Hari terus berjalan, tetapi komunikasi kami tidak berjalan. Kami hidup seperti orang asing tetapi Raihana tetap melayaniku menyiapkan segalanya untukku.

Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai di rumah habis maghrib, bibirku pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi buatan Raihana tadi pagi. Memang aku berangkat pagi karena ada janji dengan teman.

Raihana memandangiku dengan khawatir. "Mas tidak apa-apa?" tanyanya dengan perasaan kuatir.

"Mas mandi dengan air panas saja, aku sedang menggodoknya, lima menit lagi mendidih." lanjutnya.

Aku melepas semua pakaian yang basah. "Mas airnya sudah siap," kata Raihana.

Aku tak bicara sepatah kata pun, aku langsung ke kamar mandi, aku lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah berdiri di depan pintu membawa handuk.

"Mas aku buatkan wedang jahe ya." Aku diam saja.

Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak bisa kutahan. Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku dan memijit-mijit pundak dan tengkukku seperti yang dilakukan ibu,

"Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati pakai apa, pakai balsam, minyak putih, atau jamu?" tanya Raihana sambil menuntunku ke kamar.

"Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membantu Mas," ucap Raihana.

Biasanya dikerokin," jawabku lirih.

"Kalau begitu kaos mas dilepas ya, biar Hana kerokin," sahut Raihana sambil tangannya melepas kaosku.

Aku seperti anak kecil yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabar mengerokin punggungku dengan sentuhan tangannya yang halus.
Setelah selesai dikerokin, Raihana membawakanku semangkok bubur kacang hijau.
Setelah itu aku merebahkan diri di tempat tidur. Kulihat Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur sambil menghafal Al-Qur'an dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin menangis, Raihana manis tapi tak semanis gadis-gadis mesir titisan Cleopatra.

Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk makan malam di istananya.

"Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan aku perkenalkan denganmu," kata Ratu Cleopatra.

"Dia memintaku untuk mencarikannya seorang pangeran, aku melihatmu cocok dan berniat memperkenalkannya denganmu."

Aku mempersiapkan segalanya. Tepat puku 07.00 aku datang ke istana, kulihat Mona Zaki dengan pakaian pengantinnya, cantik sekali. Sang ratu mempersilakan aku duduk di kursi yang berhias berlian. Aku melangkah maju, belum sempat duduk, tiba-tiba,

"Mas, bangun, sudah jam setengah empat, mas belum shalat Isya," kata Raihana membangunkanku.

Aku terbangun dengan perasaan kecewa. "Maafkan aku Mas, membuat Mas kurang suka, tetapi Mas belum shalat Isya," lirih Hana sambil melepas mukenanya, mungkin dia baru selesai shalat malam.

Meskipun cuman mimpi, tapi itu indah sekali, sayang terputus.
Aku jadi semakin tidak suka sama dia, dialah pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi apakah dia bersalah, bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk shalat Isya.

Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari mana sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar terpenjara dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri belum pernah jatuh cinta, entah kenapa bisa dijajah pesona gadis-gadis titisan Cleopatra.
"Mas, nanti sore ada acara aqiqah di rumah Yu Imah.
Semua keluarga akan datang termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng, tidak enak kalau kita yang dieluk-elukan keluarga tidak datang." Suara lembut Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm.

Pelan-pelan ia letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas wedang jahe. Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja.
"Maaf, maaf jika mengganggu Mas, maafkan Hana," lirihnya.

Lalu perlahan-lahan beranjak meninggalkan aku di ruang kerja.

"Mbak! Eh maaf, maksudku D.. Din.. Dinda Hana!" panggilku dengan suara parau tercekak dalam tenggorokan.

"Ya, Mas!" sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan pelan-pelan menghadapkan dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum,
agaknya ia bahagia dipanggil "dinda". Matanya sedikit berbinar.

"Te.. terima kasih Di.. dinda, kita berangkat bareng kesana, habis shalat dzuhur, insya Allah," ucapku sambil menatap wajah Hana dengan senyum yang
kupaksakan.

Raihana menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar di bibirnya.

"Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang mana, Mas? Biar dinda siapkan. Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?"

Hana begitu bahagia. Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan bakti meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku belum pernah melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau wajah sedihnya ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah.

Bah, lelaki macam apa aku ini, kutukku pada diriku sendiri. Aku memaki-maki diriku sendiri atas sikap dinginku selama ini. Tapi, setetes embun cinta yang kuharapkan membasahi hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan Cleopatra itu? Bagaimana aku mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang paling membenci diriku sendiri di dunia ini.

Acara pengajian dan aqiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana membawa sejarah baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga.
"Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang paling ideal dalam keluarga!" Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan bahagia mertua dan bundaku serta kerabat yang lain.

Wajah Raihana cerah. Matanya berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut pasangan ideal.

Apanya yang ideal? Apa karena aku lulusan Mesir dan Raihana lulusan terbaik dikampusnya dan hafal Al-Qur'an lantas disebut ideal? Ideal bagiku adalah seperti Ibnu Hazm dan istrinya, saling memiliki rasa cinta yang sampai pada pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik meneteskan rasa bahagia.

Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta seperti yang dimiliki Raihana. Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar hangat. Aku dibuat kaget oleh sikap Raihana yang begitu kuat menjaga kewibawaanku di mata keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan, kecuali menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya. Bahkan ia mengaku bangga dan bahagia menjadi istriku. Aku sendiri dibuat pusing dengan sikapku. Lebih pusing lagi sikap ibuku dan mertuaku yang menyindir tentang keturunan.

"Sudah satu tahun putra sulungku menikah, koq belum ada tanda-tandanya ya, padahal aku ingin sekali menimang cucu," kata ibuku.

" Insya Allah tak lama lagi, ibu akan menimang cucu, do'akanlah kami. Bukankah begitu, Mas?" sahut Raihana sambil menyikut lenganku, aku tergagap dan mengangguk sekenanya.

Setelah peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana. Aku berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, aku hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukan kehendakku sendiri aku melakukannya, ini semua demi ibuku. Allah Maha Kuasa. Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai seorang istri. Raihana hamil. Ia semakin manis.Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis karena cinta tak kunjung tiba. Tuhan kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera.

Sejak itu aku semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan lagi. Setiap saat nuraniku bertanya, "Mana tanggung jawabmu!"
Aku hanya diam dan mendesah sedih. "Entahlah, betapa sulit aku menemukan cinta," gumamku.

Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan keenam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orangtuanya dengan alasan kesehatan. Kukabulkan permintaannya dan kuantarkan dia ke rumahnya. Karena rumah mertua jauh dari kampus tempat aku mengajar, mertuaku tak menaruh curiga ketika aku harus tetap tinggal dikontrakkan.

Ketika aku pamitan, Raihana berpesan, "Mas, untuk menambah biaya kelahiran anak kita, tolong nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM. Aku taruh di bawah bantal, nomor PIN-nya sama dengan tanggal pernikahan kita."

Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku sedikit lega. Setiap hari Aku tidak bertemu dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa sebabnya bisa demikian. Hanya saja aku sedikit repot, harus menyiapkan segalanya. Tapi toh bukan masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat kuliah di Mesir.Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu saat aku pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa tubuhku benar-benar lemas. Aku muntah-muntah, menggigil, kepala pusing, dan perut mual. Saat itu terlintas di hati andaikan ada Raihana, dia pasti telah menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk angin dengan mengeroki punggungku, lalu menyuruhku istirahat dan menutupi tubuhku dengan selimut.

Malam itu aku benar-benar tersiksa dan menderita. Aku terbangun jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam hati, aku belum shalat Isya dan terlambat shalat subuh. Baru sedikit terasa, andaikan ada Raihana tentu aku nggak meninggalkan shalat Isya, dan tidak terlambat shalat subuh.

Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus. Apalagi aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu dosen mata kuliah bahasa Arab. Diantara tutornya adalah professor bahasa Arab dari Mesir. Aku jadi banyak berbincang dengan beliau tentang mesir. Dalam pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen bahasa Arab dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia menceritakan satu pengalaman hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani.

"Apakah kamu sudah menikah?" tanya Pak Qalyubi.
"Alhamdulillah, sudah," jawabku.

"Dengan orang mana?" tanyanya.
"Orang Jawa," sahutku.

"Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya pulang dari Mesir banyak saudara yang menawarkan untuk menikah dengan perempuan shalehah. Paling tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari pesantren?" lanjutnya.
"Pernah, alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al-Qur'an." jawabku singkat.

"Kau sangat beruntung, tidak sepertiku. Aku melakukan langkah yang salah, seandainya aku tidak menikah dengan orang Mesir itu, tentu batinku tidak merana seperti sekarang. Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dan karena terpesona dengan kecantikanya saya menderita seperti ini.Ceritanya begini, Saya seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya berangkat ke Mesir dengan biaya orangtua. Di sana saya bersama kakak kelas namanya Fadhil, orang Medan juga. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama saya lulus dengan predkat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari Indonesia.

Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan rumah tempat saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak gadisnya yang bernama Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan pertama saya jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadis secantik itu. Saya bersumpah tidak akan menikah dengan siapapun kecuali dia. Ternyata perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar oleh Fadhil. Fadhil membuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak tuan rumah itu atau sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya memilih yang kedua.Ketika saya menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi masukan begini, sama-sama menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al-Azhar yang hafal Al-Qur'an, shalehah, dan berjilbab. Itu lebih selamat dari pada dengan Yasmin yang awam pengetahuan agamanya. Tetapi saya tetap teguh untuk menikahinya. Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi Yasmin. Yasmin menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir.

Perabot rumah yang mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai S1 saya kembali ke Medan, saya minta agar asset yang di Mesir dijual untuk modal di Indonesia. Kami langsung membeli rumah yang cukup mewah di kota Medan. Tahun-tahun pertama hidup kami berjalan baik, setiap tahunnya Yasmin mengajak ke Mesir menengok orangtuanya.

Aku masih bisa memenuhi semua yang diinginkan Yasmin.Hidup terus berjalan, biaya hidup semakin nambah, anak kami yang ketiga lahir, tetapi pemasukan tidak bertambah. Saya minta Yasmin untuk berhemat. Tidak setiap tahun ke Mesir, tetapi tiga tahun sekali, namun Yasmin tidak bisa. Aku mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anak terpenuhi. Sawah terakhir milik Ayah saya jual untuk modal.

Dalam diri saya mulai muncul penyesalan. Setiap kali saya melihat teman-teman alumni Mesir yang hidup dengan tenang dan damai dengan istrinya. Bisa mengamalkan ilmu dan bisa berdakwah dengan baik dan dicintai masyarakat. Saya tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Jika saya ingin rendang, saya harus ke warung. Yasmin tidak mau tahu dengan masakan Indonesia.

Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya memanggil suaminya dengan namanya. Jika ada sedikit letupan, maka rumah seperti neraka. Puncak penderitaan saya dimulai setahun yang lalu. Usaha saya bangkrut, saya minta Yasmin untuk menjual perhiasannya, tetapi dia tidak mau. Dia malah membandingkan dirinya yang hidup serba kurang dengan sepupunya. Sepupunya mendapat suami orang Mesir.Saya menyesal meletakkan kecantikan di atas segalanya. Saya telah diperbudak dengan kecantikannya. Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah dan ibu mengalah. Mereka menjual rumah dan tanah, yang akhirnya mereka tinggal di ruko yang kecil dan sempit. Batin saya menangis. Mereka berharap modal itu cukup untuk merintis bisnis saya yang bangkrut.Bisnis saya mulai bangkit, Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke Mesir. Waktu di Mesir itulah puncak tragedy yang menyakitkan.”

"Aku menyesal menikah dengan orang Indonesia, aku minta kau ceraikan aku, aku tidak bisa bahagia kecuali dengan lelaki Mesir." kata Yasmin yang bagaikan geledek menyambar.

Lalu tanpa dosa dia bercerita bahwa tadi di KBRI dia bertemu dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi bisnisman, dan istrinya sudah meninggal.Yasmin diajak makan siang, dan dilanjutkan dengan perselingkuhan. Aku pukul dia karena tak bisa menahan diri. Atas tindakan itu saya dilaporkan ke polisi. Yang menyakitkan adalah tak satu pun keluarganya yang membelaku. Rupanya selama ini Yasmin sering mengirim surat yang berisi berita bohong. Sejak saat itu saya mengalami depresi. Dua bulan yang lalu saya mendapat surat cerai dari Mesir sekaligus mendapat salinan surat nikah Yasmin dengan temannya. Hati saya sangat sakit, ketika si sulung menggigau meminta ibunya pulang."


Mendengar cerita Pak Qulyubi,… membuatku terisak-isak.
Perjalanan hidupnya menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang di mataku, tak terasa sudah dua bulan aku berpisah dengannya. Tiba-tiba ada kerinduan yang menyelinap di hati. Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah meminta apapun. Bahkan yang keluar adalah pengabdian dan pengorbanan. Hanya karena kemurahan Allah aku mendapatkan istri seperti dia.

Meskipun hatiku belum terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala di dindingnya. Apa yang sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya? Sudah delapan bulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin agar aku mencairkan tabungannya.

Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke toko baju muslim, aku ingin membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi. Aku ingin memberikan kejutan, agar dia tersenyum menyambut kedatanganku.

Aku tidak langsung ke rumah mertua, tetapi ke kontrakkan untuk mengambil uang tabungan, yang disimpan di bawah bantal. Di bawah kasur itu kutemukan kertas merah jambu. Hatiku berdesir, darahku terkesiap. Surat cinta siapa ini, rasanya aku belum pernah membuat suratsurat cinta istriku dengan lelaki lain. Gila! Jangan-jangan istriku "serong"?

Dengan rasa takut kubaca surat itu satu persatu. Dan Rabbi, ternyata surat-surat itu adalah ungkapan hati Raihana yang selama ini aku zhalimi, cinta istriku.

Betapa ia mati-matian mencintaiku, meredam rindunya akan belaianku. Ia menguatkan diri untuk menahan nestapa dan derita yang luar biasa. Hanya Allah lah tempat ia meratap melabuhkan dukanya. Dan ya Allah, ia tetap setia memanjatkan do'a untuk kebaikan suaminya. Dan betapa dia ingin hadirnya cinta sejati dariku.

"Rabbi… dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh dihadapanMu. Lakal hamdu, ya Rabb... telah Engkau muliakan hamba dengan Al-Qur'an. Kalaulah bukan karena karuniaMu yang agung ini, niscaya hamba sudah terperosok ke dalam jurang kenistaan. Ya Rabbi, curahkan tambahan kesabaran dalam diri hamba," tulis Raihana.

Dalam akhir tulisannya, Raihana berdo'a,

"Ya Allah, inilah hambaMu yang kerdil penuh noda dan dosa kembali datang mengetuk pintumu, melabuhkan derita jiwa ini kehadiratMu.

Ya Allah, sudah tujuh bulan ini hambaMu ini hamil penuh derita dan kepayahan. Namun kenapa begitu tega suami hamba tak mempedulikanku dan menelantarkanku. Masih kurang apa rasa cinta hamba padanya. Masih kurang apa kesetiaanku padanya. Masih kurang apa baktiku padanya?

Ya Allah, jika memang masih ada yang kurang, ilhamkanlah pada hambaMu ini cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suamiku.
Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkai dia karena kelalaiannya. Cukup hamba saja yang menderita. Maafkanlah dia, dengan penuh cinta hamba masih tetap menyayanginya.

Ya Allah, berilah hamba kekuatan untuk tetap berbakti dan memuliakannya.

Ya Allah, Engkau maha Tahu bahwa hamba sangat mencintainya karenaMu. Sampaikanlah rasa cinta ini kepadanya dengan caraMu. Tegurlah dia dengan teguranMu.

Ya Allah, dengarkanlah do'a hambaMu ini. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Engkau, Mahasuci Engkau."

Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Tangisku meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihana terbayang. Wajahnya yang baby face dan teduh, pengorbanan dan pengabdiannya yang tiada putusnya, suaranya yang lembut, tangannya yang halus bersimpuh memeluk kakiku, semuanya terbayang mengalirkan perasaan haru dan cinta.

Dalam keharuan terasa ada angin sejuk yang turun dari langit dan merasuk dalam jiwaku. Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta Raihana yang datang di hati. Rasa sayang dan cinta pada Raihana tiba-tiba begitu kuat mengakar dalam hatiku. Cahaya Raihana terus berkilat-kilat di mata. Aku tiba-tiba begitu merindukannya. Segera kukejar waktu untuk membagi cintaku dengan Raihana. Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air mataku yang menetes sepanjang jalan.

Begitu sampai di halaman rumah mertua, nyaris tangisku meledak. Kutahan dengan nafas panjang dan kuusap air mataku.Melihat kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis tersedu-sedu.
Aku jadi heran dan ikut menangis. "Mana Raihana, Bu?"

Ibu mertua hanya menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa sebenarnya yang telah terjadi.
"Raihana... Istrimu.. Istrimu dan anakmu yang dikandungnya."
"Ada apa dengan dia?"
"Dia telah tiada."
"Ibu berkata apa?"
"Istrimu telah meninggal seminggu yang lalu. Dia terjatuh di kamar mandi. Kami membawanya ke rumah sakit.
Dia dan bayinya tidak selamat. Sebelum meninggal, dia berpesan untuk memintakan maaf atas segala kekurangan dan kekhilafannya selama menyertaimu. Dia meminta maaf karena tidak bisa membuatmu bahagia. Dia meminta maaf telah dengan tidak sengaja membuatmu menderita. Dia minta kau meridhainya."

Hatiku bergetar hebat. "Ke.... Kenapa ibu tidak memberi kabar padaku?"

"Ketika Raihana dibawa ke rumah sakit, aku telah mengutus seseorang untuk menjemputmu di rumah kontrakkan, tapi kamu tidak ada. Dihubungi ke kampus, katanya kamu sedang mengikuti pelatihan. Kami tidak ingin mengganggumu. Apalagi Raihana berpesan agar kami tidak mengganggu ketenanganmu selama pelatihan. Dan ketika Raihana meninggal kami sangat sedih, Jadi maafkanlah kami."

Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Jiwaku remuk. Ketika aku merasakan cinta Raihana, dia telah tiada.

Ketika aku ingin menebus dosaku, dia telahmeninggalkanku. Ketika aku ingin memuliakannya, dia telah tiada. Dia telah meninggalkan aku tanpa memberi kesempatan padaku untuk sekedar minta maaf dan tersenyum padanya.

Tuhan telah menghukumku dengan penyesalan dan perasaan bersalah tiada terkira.
Ibu mertua mengajakku ke sebuah gundukan tanah yang masih baru di kuburan pinggir desa. Di atas gundukan itu ada dua buah batu nisan. Nama dan hari wafat Raihana tertulis di sana. Aku tak kuat menahan rasa cinta, haru, rindu, dan penyesalan yang luar biasa. Aku ingin Raihana hidup kembali.

Dunia tiba-tiba gelap semua...

235 comments:

«Oldest   ‹Older   201 – 235 of 235   Newer›   Newest»

Pretty! This has been a really wonderful article.
Thank you for supplying this information.

They are not their natural selves and also the vibes they transmit are picked up
by women. You have to keep a constant monitor
on whether she's into you or not. When most men open a conversation having a woman, either they fight and employ some canned line and he or she recognizes that it's canned, OR, they
come off as bland and boring.

Hi there, I enjoy reading all of your article. I wanted to
write a little comment to support you.

I enjoy what you guys are usually up too. This kind of clever work and coverage!
Keep up the amazing works guys I've added you guys to my blogroll.

Piece of writing writing is also a excitement, if you be acquainted with after that you can write or
else it is difficult to write.

You're so cool! I do not suppose I've read through anything like that before.
So good to discover somebody with unique thoughts on this issue.

Really.. thank you for starting this up. This web site is something that is needed on the internet, someone with a bit of
originality!

These are really impressive ideas in concerning blogging.

You have touched some pleasant points here.
Any way keep up wrinting.

Begin spinning now to land your big win now.

Howdy! This post couldn't be written much better!
Going through this article reminds me of my previous roommate!
He always kept talking about this. I am going to forward this post to him.
Pretty sure he's going to have a good read. Thank you for sharing!

Hey there! This post couldn't be written any better!

Reading through this post reminds me of my old room mate!

He always kept chatting about this. I will forward this write-up to him.

Fairly certain he will have a good read. Many thanks for sharing!

Hey there! Quick question that's completely off topic. Do you know how to make your site mobile friendly?

My weblog looks weird when viewing from my iphone. I'm trying
to find a template or plugin that might be able to correct this
problem. If you have any suggestions, please share.
With thanks!

Wow! At last I got a weblog from where I can actually take valuable facts concerning my study
and knowledge.

Hi there mates, good piece of writing and fastidious urging commented at this place,
I am actually enjoying by these.

What's up, yeah this article is in fact nice
and I have learned lot of things from it regarding blogging.
thanks.

Hi! I just wanted to ask if you ever have any issues with hackers?
My last blog (wordpress) was hacked and I ended up losing a few
months of hard work due to no backup. Do you have any solutions to prevent hackers?

aku bukan pembaca online yg jujur tetapi website anda teramat bagus teruskan saja!

saya bakal lanjutkan dan bookmark website amu buat kembali lagi nanti seluruh ygg terbaik

Hi there Dear, are you actually visiting this web site daily, if so afterward you will
definitely obtain fastidious experience.

Hi, just wanted to mention, I liked this blog post. It was
inspiring. Keep on posting!

Hello this is kinda of off topic but I was wondering if blogs use WYSIWYG editors or if you have to manually code with HTML.
I'm starting a blog soon but have no coding know-how so I wanted to get advice from someone
with experience. Any help would be greatly appreciated!

Hi, I do believe this is an excellent site. I stumbledupon it ;) I will return once again since I saved as a favorite it.
Money and freedom is the greatest way to change, may you be rich and continue
to help other people.

I do not even know how I nded up here, but I thought this post was
good. I don't know who you are but certainly you are going
to a famous blogger if you aree not already ;) Cheers!

My partner and I stumbled over here by a different web
address and thought I should check things out. I like
what I see so i am just following you. Look forward to checking out your
web page for a second time.

Wonderful bеat ! I woulԀ like to apprentice while you аmend your wеb site, how can i
subscribe for a blog website? The account aided me a acϲeptable deaⅼ.
I had been a little bit acգuainted οf this your broadcast offered bright clear idea
blog here : The Ninja Guide To How Tօ Password Protect Foldеr Better

Hi therе, after reading this remarkable article i am also happy to share my
knowⅼedge һere with friends.
find here : Four Lessons About Encryption Software Υou Need To Learn Before You Hit 40 &
How Тo How Tо Еncrypt А Password For Fгee When Nobody Else Will

Тhis paragraph will help the internet users for ѕetting up new webpage
or even a blog fгom start to end.
look at this site : How To Really Lock Files

Ԝonderful beat ! I woulⅾ like to apprentice even as you amend
your website, how could i subscribe for a weblog web sitе?

The account aiⅾed me a appropriate deal. I were a ⅼittle bit familiar of this
your broadcast provided vіvid cⅼeаr concept
ƅrowse around these guys : How To Password Protect Folder

I was wondering if you ever considered changing
the structure of your blog? Its very well
written; I love what youve got to say. But maybe you could a little
more in the way of content so people could connect with it better.

Youve got an awful lot of text for only having one or two pictures.
Maybe you could space it out better?

Pretty section of content. I just stumbled upon your
web site and in accession capital to assert that I acquire actually
enjoyed account your blog posts. Any way I'll be subscribing to your feeds and even I achievement you
access consistently quickly.

You must stay away from scratching your face, the eczema
will end up extremely itchy but scratching that person may lead to permanent scarring later in life.
The traditional medical profession would have you feel that it is incurable for eczema.
And of course, in the event you are contemplating receiving a pet, do your homework and select a
dog that is dander free.

magnificent submit, very informative. I wonder why the opposite experts of this sector do not notice this.
You must continue your writing. I'm confident, you've a
great readers' base already!

boardinghouses - -

I'm gone to convey my little brother, that he should also
pay a visit this webpage on regular basis to take updated from most
recent news update.

primitive person - -

Thank you for any other informative website. Where else may
just I get that kind of information written in such a perfect method?
I have a project that I am just now working on, and I've
been on the look out for such info.

It's hard to come by well-informed people for this topic, however, you sound like you know
what you're talking about! Thanks

Howdy! I simply would like to offer you a huge thumbs up for your great info you have got
here on this post. I will be coming back to your site for more soon.

Hello There. I found your blog using msn. This is a very well written article.
I'll be sure to bookmark it and return to read more of your useful info.

Thanks for the post. I'll definitely return.

«Oldest ‹Older   201 – 235 of 235   Newer› Newest»

Post a Comment

Terimakasih atas komentarnya

 
 

AL Asma'ul Husna

Sahabat Pondokku

~PONDOK-KU~ - | Copyright 2009 Blogger.com| - - - - - - - -